Manchester United

Selasa, 14 Mei 2013

Atlético Madrid

Atlético de Madrid adalah nama tim sepak bola Spanyol. Bermarkas di Madrid. Tim yang berdiri tahun 1903 memiliki prestasi yang baik dipercaturan sepak bola Spanyol. Klub ini juga memiliki rivalitas dengan tetangganya Real Madrid, yang dikenal denganDerbi Madrid.

Prestasi 

Jumat, 10 Mei 2013

xavi hernandez


Xavi telah menghabiskan semua kehidupan sepakbola di Barca, setelah bergabung dengan klub pada bulan Juli 1991, ketika ia baru berusia 11 tahun.
Dia membuat kemajuan pesat dan di musim 97-98 dipromosikan dari tim pemuda untuk Barca B, di mana ia adalah playmaker sentral dalam tim Jordi Gonzalvo yang memenangkan promosi ke divisi dua.
Mimpi Xavi membuat debut resminya dengan skuad tim pertama terwujud saat ia bermain di Piala Super Spanyol melawan Mallorca pada musim panas 1998. Dia tidak bisa berharap untuk awal yang lebih baik, karena tidak hanya dia berada di garis start up, tapi dia juga mencetak gol. Xavi juga memainkan peran penting dalam musim liga-pemenang 1998-99 dengan Van Gaal sebagai manajer, terutama dengan tujuan penting di Nuevo Zorrilla, yang berbalik nasib tim.
Dia segera dipuji sebagai Pep Guardiola baru sebagai penyelenggara sentral dalam tim, pertama sebagai pengganti sementara untuk masa depan manajer terluka, dan kemudian secara permanen setelah kepergian Guardiola ke Italia. Dengan Van Gaal, Rexach, Antic, Rijkaard dan Guardiola yang bertanggung jawab atas tim, Xavi selalu menjadi anggota kunci tim - fakta dibuat jelas oleh 300 pertandingan resmi ia menyelesaikan sementara masih berusia 25 tahun.
Dengan Rijkaard, Xavi menunjukkan bahwa dia tidak bisa hanya bermain di jantung lini tengah, tetapi juga lebih dari mampu menutupi posisi apapun di tengah taman, kemampuan tercermin dalam kenyataan bahwa ia adalah pemain yang paling sering digunakan di Liga memenangkan musim 2004-05, bermain 36 pertandingan di semua.
Xavi tidak akan pernah lupa 2 Desember 2005. Sementara pelatihan di La Masía, gelandang merobek ligamen di lutut kirinya. Kesembuhannya adalah lebih cepat dari yang diharapkan dan dalam waktu lima bulan ia bermain lagi. Pada tanggal 29 April 2006 melawan Cadiz, Xavi sekali lagi "merasa seperti pesepakbola". Dia kembali pada waktunya untuk merayakan Liga dan gelar Liga Champions dengan rekan satu timnya.
Dalam dua musim terakhir dengan Frank Rijkaard di ruang istirahat, Xavi adalah salah satu pemain yang paling sering digunakan oleh manajer Belanda.
Ketika Guardiola mengambil alih, Xavi Hernández menjadi pencetak gol lebih produktif dari sebelumnya. Dia mengalahkan rekor sendiri ketika ia mendapat 10 gol dalam 54 pertandingan, dan Iniesta menemukan pelengkap yang ideal di lini tengah FCB. Duo ini membentuk poros tengah dari musim menang treble, dan selanjutnya unggul sebagai Barca mengumpulkan semua enam trofi besar dalam satu tahun. Xavi memimpin tim untuk kemenangan di Liga musim 2009/10 dengan 99 poin menakjubkan, dan dinobatkan sebagai pemain terbaik ketiga di dunia untuk tahun 2009.
Sejak 2010/11, gelandang telah membangun apa yang selalu catatan jumlah penampilan untuk klub. Pada tanggal 2 Januari 2011, dalam kemenangan 2-1 atas Levante, Xavi menyamai rekor Migueli tentang 549 game di kemeja Barca, dan pada 2010/11 juga menyamai rekor bersama oleh Ramallets dan Guardiola untuk memenangkan liga enam kali dengan klub . Dia juga terpilih ketiga di Ballon d'Or penghargaan untuk kedua dan ketiga kalinya pada tahun 2010 dan 2011.
Pada tanggal 15 Januari 2012 di kandang Betis, Xavi membuat 400 penampilan Liga, dan dirayakan dengan mencetak gol kesepuluh musim ini, sehingga sama set pribadi yang terbaik di 08/09. Xavi kemudian mengambil penghitungan bahwa sampai 14 sebagai pemahaman yang luar biasa dari permainan dipelopori tim menuju serangkaian penghargaan baru: Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, Piala Dunia Klub dan Copa del Rey. Dialah yang membuat 2-0 melawan Santos di Jepang dan memastikan bahwa klub bisa lagi saham klaim untuk menjadi yang terbaik di dunia.
Tentu, Xavi Hernández juga telah menjadi salah satu bintang di Spanyol beredar beberapa tahun terakhir, setelah muncul di tiga Piala Dunia (2002, 2006 dan 2010) dan tiga Piala Eropa (2004, 2008 dan 2012), dan yang bernama manusia dari turnamen saat Spanyol memenangi Euro di tahun 2008, tahun yang sama ia diangkat kelima pemain terbaik di dunia oleh FIFA.
Xavi akhirnya tangannya di didambakan trofi Piala Dunia pada tahun 2010, semua yang hilang baginya untuk menyatakan salah satu gelandang terbesar permainan yang pernah dikenal. Dianggap sebagai salah satu pejalan kaki terbaik dari bola dalam sepak bola, di turnamen yang ia memenangkan penghargaan sebagai pengakuan itu.

Senin, 06 Mei 2013

Mario Götze


Mario Götze (lahir di MemmingenJerman3 Juni 1992; umur 20 tahun) adalah pemain sepak bola profesional berkebangsaan Jerman yang bermain sebagai gelandang serang untuk Borussia Dortmund di Bundesliga dan tim nasional Jerman.
Götze dapat pula bermain sebagai gelandang tengah dan gelandang sayap. Ia digadang-gadang bakal menjadi pemain kelas dunia karena kecepatan, kemampuan teknik, dan kreatifitas yang dimilikinya. Matthias Sammermenyatakan Götze sebagai "salah satu talenta terbaik yang Jerman pernah miliki.

Karier klub

Borussia Dortmund

Götze adalah produk dari akademi sepak bola Borussia Dortmund, dengan bergabung klub tersebut saat berusia 8 tahun. Ia membuat debut liga ketika masuk sebagai pemain pengganti saat menghadapi 1. FSV Mainz 05, pada 21 November 2009. Pada musim kompetisi 2010–11, pelatih Jürgen Klopp mempromosikan Götze ke skuat utama Dortmund karena Shinji Kagawa mengalami cedera parah dan tidak dapat bermain sepanjang musim. Götze tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, ia menjadi pemain penting dalam membawa Dortmund meraih gelar juara Bundesliga 2010–11. Ia berhasil mencetak 6 gol dan 15 assist, yang menjadikannya pemain usia 18 tahun terbaik di Bundesliga sejak musim 2004–05.
Götze mencetak satu gol dan dua assist saat kemenangan 3–1 atas Hamburger SV, di pertandingan pertama Bundesliga musim 2011–12, pada 5 Agustus 2011.[3]Pada 27 Maret 2012, Götze menandatangani kontrak baru yang mengikatnya bersama Dortmund hingga tahun 2016

Karier Internasional

Götze membuat debut bagi timnas senior Jerman saat menghadapi Swedia dengan masuk sebagai pemain pengganti, pada 17 November 2010.[5] Penampilan tersebut menjadikannya sebagai pemain timnas senior Jerman termuda yang pernah tampil sejak Uwe Seeler.[6] Götze dan André Schürrle yang masuk bergantian pada laga tersebut menjadi dua pemain timnas senior Jerman pertama yang lahir setelah reunifikasi Jerman. Ia membuat penampilan kedua bagi timnas Jerman saat menghadapi Italia di partai persahabatan pada 9 Februari 2011.
Götze mencetak gol pertamanya bagi timnas Jerman saat kemenangan 3–2 atas Brasil di partai persahabatan pada 10 Agustus 2011. Gol tersebut, yang ia cetak saat usianya 19 tahun 68 hari, menjadikan Götze bersamaKlaus Stürmer sebagai pencetak gol termuda bagi timnas senior Jerman setelah masa perang dunia.[7] Götze mencetak gol keduanya bagi timnas Jerman saat kemenangan 6–2 atas Austria pada 2 September 2011.

Prestasi

Klub
Borussia Dortmund
Bundesliga (2): 2010–11, 2011–12
DFB-Pokal (1): 2011–12
Internasional
Jerman U17
Kejuaraan Sepak Bola Eropa UEFA U–17 : 2009
Individual
Medali Emas Fritz-Walter-Medal 2009 (Kategori U17)
Medali Emas Fritz-Walter-Medal 2010 (Kategori U18)
Anggota Tim Terbaik Bundesliga 2010–11 versi majalah Kicker

Borussia Dortmund

Borussia Dortmund
Borussia Dortmund
Nama lengkapBallspiel-Verein Borussia
1909 e. V. Dortmund
JulukanDie Borussen (Para Borussian)
Die Schwarzgelben (Hitam Kuning)
Didirikan19 Desember 1909; 103 tahun yang lalu
StadionSignal Iduna Park,
DortmundJerman
(Kapasitas: 80.720[1][2])
PresidenDr Reinhard Rauball
General manajerHans-Joachim Watzke
ManajerJürgen Klopp
LigaBundesliga
Posisi 2011–12Juara, Bundesliga
Situs webSitus web resmi klub
Kostum kandang
Kostum tandang
Kostum ketiga


Prestasi

Domestik

Juara (8): 1955–56, 1956–57, 1962–63, 1994–95, 1995–96, 2001–02, 2010–11, 2011–12
Runners-up (4): 1948–49, 1960–61, 1965–66, 1991–92
Juara (3): 1964–65, 1988–89, 2011–12
Runners-up (2): 1962–63, 2007–08
Juara (4): 1989, 1995, 1996, 2008
Runners-up (2): 2011, 2012
Runners-up (1): 2003
Juara (6): 1947–48, 1948–49, 1949–50, 1952–53, 1955–56, 1956–57

Eropa

Juara (1): 1996–97
Juara (1): 1965–66
Runners-up (2): 1992–93, 2001–02
Runners-up (1): 1997

Internasional

Juventus F.C.




Juventus Football Club S.p.A. (daribahasa Latin:[5] iuventusmasa muda, diucapkan [juˈvɛntus]), biasa disebut sebagai Juventus dan popular dengan nama Juve, merupakan sebuah klubsepak bola profesional asal Italia yang berbasis di kota TurinPiedmont, Italia. Klub ini didirikan pada 1897 dan telah mengarungi beragam sejarah manis, dengan pengecualian kejadian musim 2006-2007, di Liga Italia Seri-A. Klub ini sendiri merupakan salah satu anak perusahaan dari FIAT Group, yang saat ini dimiliki oleh keluarga Agnelli, dan membawahi perusahaan-perusahaan lain seperti Fiat Automobile, tim F1 Scuderia FerrariFerrari Corse, dan Maserati Automobile.
Juventus merupakan klub tersukses dalam sejarah Liga Italia Seri-A dengan raihan 28 gelar juara (Scudetto),[6] dan juga tercatat sebagai salah satu klub tersukses di dunia.[6] Merujuk pada Federasi Sejarah & Statistik Sepak Bola Internasional, sebuah organisasi internasional yang berafiliasi pada FIFA, Juventus menjadi klub terbaik Italia pada abad 20, dan menjadi klub terbaik Italia kedua di Eropa dalam waktu yang sama.[7]
Secara keseluruhan, klub ini telah memenangi 55 kejuaraan resmi.[8] Dengan rincian 44 di Italia, dan 11 di zona UEFA dan dunia.[9][10] Sekaligus menjadikannya sebagai klub tersukses keempat di Eropa, dan ketujuh di dunia, dengan gelar-gelar dunia yang diakui oleh enam organisasi konfederasi sepak bola, dan tentunya FIFA.[11]
Klub ini menjadi klub pertama Italia dan Eropa Selatan yang berhasil memenangi gelar Piala UEFA (sekarang namanya menjadi Liga Europa).[12] Pada 1985, Juventus menjadi satu-satunya klub di dunia yang berhasil memenangi seluruh kejuaraan piala internasional dan kejuaraan liga nasional,[13] dan menjadi klub Eropa pertama yang mampu menguasai semua kejuaraan UEFA dalam satu musim.[14][15][16]
Juventus juga menjadi salah satu klub sepak bola Italia dengan jumlah fans terbesar[17], dan diperkirakan ada 170 juta orang didunia yang juga menjadi fans Juve.[18] Klub ini menjadi salah satu pencipta ide European Club Association, yang dulu dikenal dengan nama G-14, yang berisikan klub-klub kaya Eropa. Klub ini juga menjadi penyumbang terbanyak pemain untuk tim nasional Italia.
Sejak 2006 klub ini bermarkas di Stadio Olimpico di Torino yang menggantikan markas sebelumnya yaitu Stadion Delle Alpi yang dirobohkan dan dibangun ulang sebagai stadion baru bernama Juventus Arena. Juventus resmi memakai stadion baru mereka tesebut pada awal September 2011.

Sejarah

1887–1922: Awal mula

juventus didirikan dengan nama Sport Club Juventus pada pertengahan tahun 1897 oleh siswa-siswa dari sekolah Massimo D'Azeglio Lyceum di daerah Liceo D’Azeglio, Turin[20]. Awal mula dibentuknya klub ini adalah sebagai pelampiasan darianak-anak yang saling berteman dan menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama dan bersenang-senang serta melakukan berbagai hal positif. Usia anak-anak tersebut rata-rata 15 tahunan, yang tertua berumur 17 dan lainnya di bawah 15 tahun. Setelah itu, hal yang mungkin tidak jadi masalah sekarang ini tapi merupakan hal yang terberat bagi pemuda-pemuda tersebut saat itu adalah mencari markas baru. Salah satu pendiri Juventus, Enrico Canfari dan teman-temannya kemudian memutuskan untuk mencari sebuah lokasi dan akhirnya mereka menemukan salah satu tempat yaitu sebuah bangunan yang memiliki halaman yang dikelilingi tembok, mempunyai 4 ruangan, sebuah kanopi dan juga loteng dan keran air minum. Selanjutnya, Canfari menceritakan tentang bagaimana terpilihnya nama klub, segera setelah mereka menemukan markas baru. Akhirnya, tibalah pertemuan untuk menentukan nama klub dimana terjadi perdebatan sengit di antara mereka. Di satu sisi, pembenci nama latin, di sisi lain penyuka nama klasik dan sisanya netral. Lalu, diputuskanlah tiga nama untuk dipilih; "Societa Via Port", "Societa sportive Massimo D’Azeglio", dan "Sport Club Juventus". Nama terakhir belakangan dipilih tanpa banyak keberatan dan akhirnya resmilah nama klub mereka menjadi "Sport Club Juventus", tetapi kemudian berubah nama menjadi Foot-Ball Club Juventus dua tahun kemudian.[3]Klub ini lantas bergabung dengan Kejuaraan Sepak Bola Italia pada tahun 1900. Dalam periode itu, tim ini menggunakan pakaian warna pink dan celana hitam. Juve memenangi gelar Seri-A perdananya pada 1905, ketika mereka bermain di Stadio Motovelodromo Umberto I. Di sana klub ini berubah warna pakaian menjadi hitam putih, terinspirasi dari klub Inggris Notts County.[21]

Pada 1906, beberapa pemain Juve secara mendadak menginginkan agar Juve keluar dari Turin.[3]Presiden Juve saat itu, Alfredo Dick kesal dan ia memutuskan hengkang untuk kemudian membentuk tim tandingan bernama FBC Torino yang kemudian menjadikan Juve vs. Torino sebagai Derby della Mole.[22] Juventus sendiri ternyata tetap eksis walaupun ada perpecahan, bahkan bisa bertahan seusai Perang Dunia I.[21]

1923–1980: Masuknya Keluarga Agnelli dan merajai Italia

Pemilik FIATEdoardo Agnelli mengambil alih kendali Juventus pada 1923, dimana kemudian ia membangun stadion baru.[3] Hal ini memberikan semangat baru untuk Juventus, dimana pada musim 1925-26, mereka berhasil menjadi scudetto dengan mengalahkanAlba Roma dengan agregat 12-1. Pada era 1930-an, klub ini menjadi klub super di Italia dengan memenangi gelar lima kali berturut-turut dari 1930 sampai 1935, dibawah asuhan pelatih Carlo Carcano[21], dan beberapa pemain bintang seperti Raimundo Orsi,Luigi BertoliniGiovanni Ferrari dan Luis Monti.
Juventus kemudian pindah kandang ke Stadio Comunale, tetapi di akhir 1930-an dan di awal 1940-an mereka gagal merajai Italia. Bahkan mereka harus mengakui tim sekota mereka, A.C. Torino. Secercah prestasi kemudian muncul di musim 1937-38 saat Juve menjuarai Piala Italia pertama mereka setelah di final mengalahkan klub sekota mereka, Torino.
Setelah berada di posisi 6 pada musim 1940-41, Juve lantas merebut Piala Italia kedua mereka di musim berikutnya. Di periode ini, Italia ikut Perang Dunia II dan ini membuat jalannya Liga menjadi terhambat. Sepakbola Italia kemudian memutuskan untuk terus berlangsung saat masa perang berjalan. Pada 1944, Juve ikut serta dalam sebuah turnamen lokal, yang akhirnya urung diselesaikan. Pada 14 Oktober, Liga kembali bergulir dan ditandai dengan derby Torino vs. Juventus. Torino yang saat itu mendapat sebutan "Grande Torino" kalah 2-1 dari Juventus. Namun di akhir musim justru Torino berhasil juara. Pada jeda musim panas, sebuah peristiwa penting terjadi di Juve pada 22 Juli 1945, Gianni Agnelli mengambil alih posisi presiden klub, meneruskan tradisi keluarga Agnelli. Dalam kepempinannya, Agnelli mendatangkan Giampiero Boniperti dalam jajaran staffnya. Ditambah amunisi baru seperti Muccinelli dan striker asal Denmark John Hansen. Setelah Perang Dunia II usai Juve berhasil menambah dua gelar Seri-A pada 1949–50 dan 1951–52, dibawah kepelatihan orang Inggris,Jesse Carver.
Gianni Agnelli lantas meninggalkan klub pada 18 September 1954. Tahun ini periode gelap Juve dimulai dengan hanya mampu finish di posisi 7. Musim berikutnya, di bawah arahan manajer Puppo yang mengandalkan skuat muda Juve mulai mencoba bangkit. Setelah serangkaian kekalahan karena skuat yang belum matang, pada November 1956 kabar baik berembus dengan masuknya Umberto Agnelli sebagai komisioner klub. skuat menjadi kuat dengan kedatangan beberapa pemain hebat seperti Omar Sivori dan pemuda Wales bernama John Charles yang menemani para punggawa lama seperti Giampiero Boniperti. Musim 1957-58, Juve kembali berjaya di Seri-A, dan menjadi klub Italia pertama yang mendapatkan bintang kehormatan karena telah memenangi 10 gelar Liga Seri-A. Di musim yang sama, Omar Sivori terpilih menjadi pemain Juventus pertama yang memenangi gelar Pemain Terbaik Eropa. Juve juga berhasil memenangi Coppa Italia setelah mengalahkan ACF Fiorentina di final. Boniperti pensiun di 1961 sebagai top skorer terbaik Juventus sepanjang masa dengan 182 gol di semua kompetisi yang ia ikuti bersama Juventus.
Di era 1960-an, Juve hanya sekali memenangi Seri-A yaitu di musim 1966–67. Tetapi pada era 1970-an, Juve kembali menemukan jatidirinya sebagai klub terbaik Italia. Di bawah arahan Čestmír Vycpálek, Juve berusaha bangkit di musim 1971-72. Di paruh pertama musim, Juve belum stabil dalam permainan dan di paruh kedua mereka berhasil kembali ke performa terbaik terutama saat mencapai final Fairs Cup (cikal bakal Piala UEFA) namun kalah dari Leeds United. Di pekan ke-4 liga, Juve kemudian berhasil mengalahkan AC Milan 4-1 di San Siro ditandai permainan apik Bettega dan Causio. Namun beberapa saat kemudian, Bettega harus istirahat karena sakit dan posisi pertama klasemen milik Juve menjadi terancam. Untungnya mereka berhasil konsisten dan merebut scudetto ke-14 mereka. Selanjutnya di musim 1972-73 Juve kedatangan Dino Zoff dan Jose Altafini dari Napoli. Di musim ini, Juve dihadapkan pada jadwal di Seri-A dan kompetisi Eropa. Setelah berjuang sampai menit akhir, Juve berhasil menyalip AC Milan, yang secara mengejutkan kalah dipertandingan terakhir mereka, dan merebut scudetto ke-15. Juve juga bahkan berhasil masuk final Piala Champions musim tersebut, namun di mereka kalah dari Ajax Amsterdam yang dimotori oleh Johan Crujff. Selanjutnya mereka berhasil menambah tiga gelar lagi bersama defender Gaetano Scirea di musim 1974-75, 1976–77 dan 1977–78. Dan dengan masuknya pelatih hebat bernama Giovanni Trapattoni, Juve berhasil memperpanjang dominasi mereka di era 1980-an.

1981–1993: Scudetto ke-20 dan merajai Eropa

Era tangan dingin Trapattoni benar-benar membuat Seri-A porak poranda di 1980-an.[21] Juve sangat perkasa di era tersebut, dengan gelar Seri-A empat kali di era tersebut. Setelah 6 pemainnya ikut andil dalam timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 1982 dengan Paolo Rossi sebagai salah satu pemain Juve kemudian terpilih menjadi Pemain Terbaik Eropa pada 1982, sesaat setelah berlangsungnya Piala Dunia pada tahun tersebut.[23] ditambah dengan kedatangan bintang Prancis Michel Platini, Juventus kembali difavoritkan di musim 1982-83. Namun Juventus yang juga disibukkan dengan jadwal kejuaraan Eropa memulai kompetisi dengan lambat. Hal itu ditunjukkan dengan menelan kekalahan dari Sampdoria di pertandingan pembuka musim serta menang dengan tidak meyakinkan atas Fiorentina dan Torino. Sementara di Eropa, mereka berhasil menyingkirkan Hvidovre (Denmark) dan Standard Liege (Belgia) di penyisihan. Akan tetapi, Juventus kembali ke trek juara di musim dingin bersamaan keberhasilan mereka menembus perempat final Liga Champions. Selanjutnya, kemenangan atas Roma melalui 2 gol dari Platini dan Brio membuat jarak keduanya berselisih 3 poin dengan Roma di posisi puncak. Namun, karena konsentrasi Juve terpecah antara Serie A dan Liga Champions akhirnya tidak berhasil mengejar AS Roma yang menjadi juara. Juventus seharusnya bisa menumpahkan kekecewaannya di Liga saat mereka bertemu Hamburg di final Liga Champions tapi hal itu tidak terjadi. Berada di posisi kedua di kompetisi domestic dan Eropa, Juventus akhirnya berhasil merebut gelar penghibur saat menjuarai Piala Italia dan Piala Interkontinental.
Musim panas 1983, Juve kehilangan dua pilar inti mereka. Dino Zoff gantung sepatu di usia 41 tahun sedangkan Bettega beralih ke Kanada untuk mengakhiri karirnya di sana. Juve lantas merekrut kiper baru dari Avellino: Stefano Tacconi dan Beniamino Vinola dari klub yang sama. Sementara Nico Penzo menjadi pendampong Rossi di lini depan. Juve pada saat itu berkonsentrasi penuh di dua kompetisi, Liga dan Piala Winner. Hasilnya, melalui penampilan yang konsisten sepanjang musim, Juve merengkuh gelar liga satu minggu sebelum kompetisi usai. Dan gelar ini ditambah gelar lainnya di Piala Winner saat mereka mengalahkan Porto 2-1 di Basel pada 16 Mei 1984. Dua gelar ini sangat bersejarah dan merupakan prestasi bagi kapten klub Scirea dan kawan-kawan.
Setelah era keemasan Rossi usai, Michel Platini kemudian secara mengejutkan berhasil menjadi pemain terbaik Eropa tiga kali berturut-turut; 1983, 1984 dan 1985, dimana sampai saat ini belum ada pemain yang bisa menyamai dirinya. Juventus menjadi satu-satunya klub yang mampu mengantarkan pemainnya menjadi pemain terbaik Eropa sebanyak empat tahun berurutan.[24] Platini juga menjadi bintang saat Juve berhasil menjadi juara Liga Champions Eropa pada 1985 dengan sumbangan satu gol semata wayangnya. Tragisnya, final melawan Liverpool FC dari Inggris tersebut yang berlangsung di Stadion Heysel Belgia, harus dibayar mahal dengan kematian 39 tifoso Juventus akibat terlibatkerusuhan dengan para hooligans dari Liverpool. Sebagai hukuman, tim-tim Inggris dilarang mengikuti semua kejuaraan Eropa selama lima tahun.[25] Juventus kemudian merebut scudetto terakhir mereka di era 1980-an pada musim 1985-86, yang juga menjadi tahun terakhir Trappatoni di Juventus. Memasuki akhir 1980-an, Juve gagal menunjukkan performa terbaiknya, mereka harus mengakui keunggulan Napoli dengan bintang Diego Maradona, dan kebangkitan dua tim kota Milan, AC Milandan Inter Milan.[21] Pada 1990, Juve pindah kandang ke Stadio delle Alpi, yang dibangun untuk persiapan Piala Dunia 1990.

2004–2011: Terjerat masalah dan masa pemulihan

Mantan pemain Juventus era 1970-an, Fabio Capello diangkat menjadi pelatih Juve pada 2004. Ia membawa timnya menjuarai dua musim Seri-A di musim 2004-05 dan 2005-06. Sayangnya, di Mei 2006 Juve ketahuan menjadi salah satu klub Seri-A yang terlibat skandal pengaturan skor bersama AC MilanAS RomaSS Lazio, dan ACF Fiorentina. Juve terkena sanksi berat, dimana mereka terpaksa di degradasi ke seri-B untuk pertama kali dalam sejarah. Dua gelar yang dibawa Capello juga harus direlakan untuk dicabut.[33]

Dibawah manajer muda Perancis, Didier Deschamps dan para pemain setia seperti Gianluigi Buffon dan Pavel Nedved, Juve menjadi tim super di Seri-B dan dengan hasil sebagai juara seri-B untuk pertama kalinya, Juve kembali ke Seri-A pada musim 2007-08. Claudio Ranieri[34]diangkat menjadi pelatih Juve setelah Deschamps berseteru soal bayaran gaji. Sayangnya usia Ranieri juga tidak berlangsung lama setelah ia gagal membawa Juve juara di musim 2008-09.[35] Mantan pemain Juve lain, Ciro Ferrara mulai bertugas menangani Juve di dua pertandingan akhir musim 2008-09 dan melanjutkan posisinya untuk musim 2009-10.[36] Namun Ferrara pun tidak bisa bertahan lama, karena di bulan Januari 2010 ia gagal membawa Juve berprestasi lebih baik setelah kandas di babak penyisihan grup Liga Champions. Ia pun akhirnya digantikan oleh Alberto Zaccheroni. Zaccheroni menangangi Juventus sampai akhir musim 2009-10 dan kemudian ia digantikan oleh Luigi Del Neri untuk musim 2010-11. Namun setelah serentetan hasil buruk di paruh musim kedua, manajemen Juventus akhirnya memutuskan untuk memecat Del Neri tidak lama setelah musim berakhir, dan ia digantikan oleh mantan bintang Juventus di era 1990-an, Antonio Conte untuk musim 2011-12.

2012–sekarang: Kembali ke jalur juara

Di bawah asuhan pelatih baru Antonio Conte yang merupakan mantan pemain Juve di masa silam, Si Nyonya Tua kembali menemukan jati dirinya yang hilang dalam beberapa musim terakhir dan keluar sebagai Scudetto di akhir musim 2011-12.[37] Juventus pun mencatat rekor meyakinkan sampai musim berakhir yaitu tidak terkalahkan sepanjang musim sekaligus menjadi klub pertama dalam sejarah Seri A yang tidak terkalahkan dalam format Seri A yang mengikut sertakan 20 klub. Juve pun kembali membuktikan diri sebagai salah satu klub yang paling kuat dalam segi bertahan dengan hanya kebobolan 20 kali, dan menjadi klub terbaik kedua Eropa di musim 2011-12 yang mencatat rekor paling sedikit kebobolan.[38] Juventus pun berhasil mempertahankan gelar Scudetto-nya di musim 2012-13 dan juga berhasil melaju sampai babak perempatfinal Liga Champions di musim yang sama sebelum dihentikan Bayern Munich.Prestasi dan penghargaan

Prestasi dan Penghargaan

Secara umum, Juventus adalah klub tersukses di Italia dengan raihan gelar 44 gelar nasional di Italia,[8] dan salah satu klub tersukses di dunia,[6][7] dengan raihan 11 gelar internasional,[9] dengan raihan rekor 9 gelar UEFA dan dua FIFA.[60] menjadikan mereka sebagai klub keempat yang sukses di Eropa[10] dan juga dunia,[11] dimana semuanya telah diakui secara pasti oleh UEFA dan FIFA, beserta enam konfederasi sepak bola dunia.[9]
Juventus telah memenangi 29 gelar Seri-A, dan menjadi rekor terbanyak sampai saat ini,[32] dan juga menjadi catatan tersendiri saat Juve mendominasi lima musim berturut-turut Seri-A dari musim 1930-31 sampai 1934-35.[32] Mereka juga telah memenangi Piala Italia Sembilan kali, dan menjadi rekor sampai saat ini.[61]
Juventus menjadi satu-satunya klub sepak bola Italia yang telah mendapatkan dua bintang sebagai tanda mereka telah menjuarai Seri-A lebih dari 20 kali. Bintang pertama mereka dapatkan pada musim 1957-58 ketika Juve berhasil menjuarai Seri-A untuk kesepuluh kalinya, dan yang kedua pada 1981-82 ketika Juve menjuarai Seri-A untuk keduapuluh kalinya. Juventus juga merupakan klub Italia pertama yang memenangi gelar dobel (Seri-A dan Coppa Italia) sebanyak dua kali, yaitu pada 1959-60 dan 1994-95.
Juventus tercatatkan juga sebagai klub pertama dan satu-satunya di dunia yang berhasil memenangi seluruh gelar kejuaraan resmi,[13] yang diakui oleh FIFA,[15][16][14][62] Juve memenangi Piala UEFA tiga kali, berbagi rekor bersama Liverpool dan Inter Milan.[63]
Klub Turin ini menempati posisi 7 —tetapi teratas untuk klub Italia—dalam daftar Klub Terbaik FIFA Abad 20 yang diumumkan pada 23 Desember 2000.[64]
Juventus juga mendapatkan status sebagai World's Club Team of the Year sebanyak dua kali tepatnya pada 1993 dan 1996[65], dan menempati rangking 3 dalam Rangking Klub Sepanjang masa (1991-2008) oleh International Federation of Football History & Statistics.[66]
[sunting]Gelar juara nasional Italia
 Lega Calcio Seri-A
Juara (29 kali)[67]: 1905; 1925-26[68]; 1930–31; 1931-32; 1932–33; 1933–34; 1934–35; 1949–50; 1951–52; 1957–58; 1959–60; 1960–61; 1966–67; 1971–72; 1972–73; 1974–75; 1976–77; 1977–78; 1980–81; 1981–82; 1983–84; 1985–86; 1994–95; 1996–97; 1997–98; 2001–02; 2002–03; 2011–12; 2012–13.
Posisi kedua (20 kali): 1903; 1904; 1906; 1937–38; 1945–46; 1946–47; 1952–53; 1953–54; 1962–63; 1973–74; 1975–76; 1979–80; 1982–83; 1986–87; 1991–92; 1993–94; 1995–96; 1999–00; 2000–01; 2008–09.
Lega Calcio Seri-B
Juara (1 kali): 2006-07.[69]
 Piala Italia
Juara (9 kali): 1937–38; 1941–42; 1958–59; 1959–60; 1964–65; 1978–79; 1982–83; 1989–90; 1994–95.
Juara kedua (5 kali): 1972–73; 1991–92; 2001–02; 2003–04; 2011–12.
 Piala Super Italia
Juara (5 kali): 1995, 1997, 2002, 2003, 2012.[70]
Juara kedua (3 kali): 1990; 1998; 2005.
Piala Kremlin
Juara (2 kali): 1954, 1958.
[sunting]Gelar Eropa dan dunia
 Piala/Liga Champions
Juara (2 kali): 1984-85, 1995-96,.[71][72]
Juara kedua (5 kali): 1972–73; 1982–83; 1996–97; 1997–98; 2002–03
 Piala Winners UEFA
Juara (1 kali): 1983-84.[73]
Piala UEFA/Liga Europa
Juara (3 kali): 1976-77, 1989-90, 1992-93.[74][75]
Juara kedua (1 kali): 1994–95.
 Piala Intertoto
Juara (1 kali): 1999-00.[9][76][77]
Piala Super Eropa
Juara (2 kali): 1984, 1996.[78][79]
 Piala Toyota Intercontinental
Juara (2 kali): 1985, 1996.[60][80]
Juara kedua (1 kali): 1973.